Minggu, 12 Januari 2014

K E J A W E N






 

JAGAD KEJAWEN

The Javanese Culture & Spirituality

Kejawen adalah sebuah kata bahasa Jawa yang berasal dari kata : Jawa. Jagad Kejawen adalah nama website kami. Berbicara mengenai Jawa mengacu kepada beberapa arti a.l. :

 1.    Pulau Jawa

Tanah cantik jelita, beriklim tropis nyaman, terkenal dengan pemandangan indah yang mentakjubkan berupa petak-petak sawah berundak yang subur, diantara gunung-gunung berapi menjulang tinggi menggapai langit biru dan hamparan tanaman padi didataran rendah sampai ketepi-tepi pesisir yang diteduhi pohon-pohon kelapa melambai dibuai angin semilir. Tanah yang subur menunjang tumbuhnya palawija/tanaman-tanaman pangan yang lainnya seperti : jagung, ubi, berbagai jenis sayur-mayur, kacang dan juga tanaman perkebunan  seperti : tebu, jati, teh, coklat, kopi, karet, dll. Berbagai tanaman hias dan bunga-bunga menghiasi berbagai tempat, indah berwarna-warni dan beberapa diantaranya harum semerbak. Semua itu  menjadikan tanah Jawa dikenal oleh berbagai bangsa-bangsa lain.

Orang-orang Eropa pada waktu dulu sering menggambarkan suburnya tanah Jawa dengan canda ria , mengatakan : “Hati-hati, jangan terlalu lama menaruh tongkat kayu (bah. Jawa “teken”) ditanah, nanti berubah menjadi pohon”.

Orang-orang Arab sejak dulu juga mengagumi pulau Jawa yang hijau sepanjang tahun dan airnya jernih melimpah ruah, tanahnya subur, banyak makanan dan udaranya nyaman , dengan ucapan :” Al Jazeera Jawa, Kit atun minal jana” – “Pulau Jawa adalah sepotong tanah surga”.

Untuk sekedar informasi bagi teman-teman lain benua : Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia , Asia Tenggara , antara benua Asia dan Australia, tepat disebelah barat pulau Bali, sedikit diselatan garis katulistiwa. Membujur dari timur kebarat sepanjang 600 mil dengan lebar antara 60 sampai dengan 120 mil, luasnya sekitar 51.000 mil persegi.
Penduduk sangat padat , lebih dari 100 juta orang menghuni Jawa, artinya lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Luas Indonesia sekitar 735.000 mil persegi (1.904.000 km2) dengan ibukotanya Jakarta.

 2.    Manusia Jawa

Pada jaman dulu, yang disebut manusia Jawa adalah semua orang yang tinggal di Jawa. Namun dalam perkembangannya menimbulkan grup-grup etnis – linguistik : Jawa Barat ditinggali orang-orang Sunda, sedangkan orang Jawa tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.. Lalu timbul lagi etnis Betawi di Jakarta, Baduy di Banten, Tengger disekitar Bromo , Osing di Banyuwangi, Madura di Jawa Timur sisi Timur.
Dalam pergaulan sehari-hari lebih spesifik menyebut daerah kota asalnya , jadilah orang Jogya, orang Solo, Banyumas, Tegal, Semarang, Madiun, Malang, Surabaya, dll.

Ini juga kebiasaan dibelahan lain dunia. Ada Londoner-orang London, New Yorker-orang New York, Parisien-orang Paris, Moskwic-orang Moskwa. Di tanah Jawa sejak dulu juga tinggal warganegara Indonesia keturunan Tionghwa, Arab, India, Eropa, dll.

The Java Man

Dimasa yang disebut pre-historic, menurut penelitian ilmiah, ada sekelompok manusia purba tertua didunia yang diketemukan di Jawa. Tepatnya di Sangiran , Sragen, Jawa Tengah. Keberadaannya sudah ada 1,9 juta tahun yang lalu. Orang purba tersebut disebut Homo Erectus – manusia yang berdiri kemudian dikenal sebagai The Java Man, manusia Jawa. Penemuan selanjutnya menemukan fosil-fosil manusia purba di Wajak, Mojokerto. Sejarah keberadaan manusia di Jawa ternyata sudah berjalan dalam kurun waktu yang panjang.

Keberadaan orang Jawa ditanah Jawa , tentulah mempunyai sejarah dan budayanya yang perlu dicermati terutama oleh anak keturunan orang Jawa dan penduduk yang mendiami tanah Jawa.     


Jayabaya : Sekelumit sejarah dan cerita rakyat

Nama Jayabaya sangat populer tidak hanya dikalangan orang tradisional Jawa, tetapi juga bagi orang Indonesia umumnya, dikarenakan adanya ramalan kuno yang disebut Jangka Jayabaya, yang ramalannya seputar kemerdekaan Indonesia 1945 – benar.

Indonesia merdeka didahului dengan masuknya tentara Jepang selama 3,5 tahun dengan mengusir kolonialis Belanda yang telah bercokol lebih dari 3.5 abad dinegeri ini. Dengan tepat pula meramalkan siapa Ratu, maksudnya Pemimpin , Presiden pertama R.I dan bagaimana perjalanan perjuangannya. Ramalan yang sering disebut Pralambang Jayabaya ini berlaku sampai dengan tahun 2150-an.

Isi ramalan Jayabaya adalah :
1.    Ramalan tentang perjalanan negara di Nusantara/Indonesia.
2.    Sikap ratu/pemimpin yang baik yang seharusnya dilakukan dan sikap jelek  yang pantang dilakukan.
3.    Contoh perilaku ratu/pemimpin yang bisa jadi panutan.
4.     Sikap pamong/priyayi/birokrat dan tingkah laku manusia dimasyarakat pada saat tertentu..
5.    Gejolak alam, yaitu berbagai bencana alam termasuk wabah dan penyakit , perubahan iklim dan geologis/geografis.
6.    Watak dan tindakan manusia yang mempengaruhi kehidupan secara umum, keadaan negara dan perilaku alam.

Esensi pralambang Jayabaya mengandung nasehat yang bijak, bagaimana manusia  bisa hidup selamat sejahtera dengan berkah Tuhan. Tentu harus punya kesadaran yang tinggi, selalu berbuat baik terhadap sesama manusia, mahluk, bumi, alam dan menyadari kodratnya sebagai titah dari Sang Pencipta. Dengan berbudi luhur, manusia akan mengalami kehidupan di jaman Kalasuba,  yang serba baik,enak, makmur, tetapi kalau masih saja melanggar norma-norma baku kehidupan seperti moralitas, tata susila , maka masyarakat dan negeri ini akan berada pada jaman Kalabendu, yang serba nista, terpuruk, tidak karuan.Pada saat ini kita tidak mengupas ramalan ini, nanti pada kesempatan lain, karena masih banyak hal yang relevan, yang menarik untuk diketahui.


Siapa Jayabaya

Tentang siapa sebenarnya Jayabaya, ada beberapa pendapat yang bergulir. Yang jelas, ada persamaan pendapat, beliau adalah Prabu Jayabaya, seorang raja dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur .

Ada yang berpendapat , sesuai dokumen sejarah bahwa Prabu Jayabaya adalah salah seorang raja Kediri diabad ke XI, dimana pada masa itu seni sastra , tari dan musik gamelan berkembang pesat.

Sementara itu ada pendapat lain terutama dari kalangan kebatinan bahwa eksistensi Jayabaya adalah diabad ke IV di Kediri , Jawa Timur. Menurut sumber ini, Kediri adalah kerajaan pertama di Jawa. Dari sini berpindah ke Jawa Tengah di Mataram Kuno disekitar Borobudur, Prambanan, lalu pindah lagi ke Jawa Timur di Jenggala, Kediri dan sekitarnya selanjutnya ke Sigaluh , Jawa Barat, lalu pindah lagi ke Jawa Timur yaitu Majapahit. Lalu pindah ke Jawa Tengah , yaitu Demak, Pajang, Mataram, diikuti jaman penjajahan Belanda, Jepang dan Nusantara merdeka.

Sebenarnya, penduduk pulau Jawa sejak jaman kabuyutan (sebelum datangnya pengaruh Hindu yang memperkenalkan sistim kerajaan), baik yang tinggal di Jawa bagian barat, tengah maupun timur itu sama saja. Baru kemudian  dalam perkembangannya muncul suku-suku dan pembagian daerah kediaman suku. Sebenarnya asal mulanya satu sebagai orang Jawa, orang yang menempati pulau Jawa.

Penduduk selalu mengikuti ratunya yang memindahkan pusat kerajaan.  Pernah di Banten, Pasundan, Mataram, Kediri,Majapahit, penduduk mengikuti ratu membangun negeri. Maklum jumlah penduduk pulau Jawa pada saat itu sedikit sekali.  Bekas negeri/kerajaan yang ditinggalkan penghuninya ketempat lain, menjadi hutan kembali. Kalau ada raja atau kepala daerah yang kejam, akan ditinggal pergi oleh kawulanya dan mereka pindah ketempat lain yang lebih baik.


Watak mulia Jayabaya

Semua pihak berpendapat bahwa Prabu Jayabaya sangatlah bijak, kuat tirakatnya dalam mengemban tugas negara. Untuk memecahkan persoalan negara yang pelik, Sang Prabu disertai oleh Permaisuri, Ratu Pagedhongan, disertai puila oleh beberapa menteri terkait, melakukan perenungan di Padepokan Mamenang, memohon petunjuk Gusti, Tuhan.

Perenungan bisa berlangsung beberapa hari,  minggu, bisa juga sebulan, sampai mendapatkan jawaban/petunjuk dari Dewata Agung, mengenai langkah yang harus dilakukan demi kebaikan kawula dan negara.

Selama masa perenungan di Mamenang, Raja dan Ratu hanya menyantap sedikit kunyit dan temulawak (tiga buah sebesar jari telunjuk) dan minum secangkir air putih segar yang langsung diambil dari mata air, sehari cukup 2 atau  3 kali. Sedangkan para menteri hanya menyantap semangkok bubur jagung dan secangkir air putih setiap waktu makan.

Setelah mendapatkan jawaban/solusi , Raja dan rombongan kembali ke istana di Kediri.


Sabdo Pandito Ratu

Di istana diadakan Pasewakan Agung , rapat kerajaan yang dipimpin raja, dikesempatan tersebut raja mengumumkan kebijakan yang diambil kerajaan dan yang mesti dijalankan dan ditaati seluruh pejabat dan kawula.

Apa yang diputuskan dan telah diucapkan oleh raja didepan rapat itu, disebut Sabdo Pandito Ratu atau Sabdo Brahmono Rojo, harus diterima  dan dilaksanakan oleh semua pihak termasuk oleh raja sendiri. Jadi , seorang raja/pemimpin itu harus memenuhi janji dan apa yang diucapkan harus ditepati, tidak boleh mencla-mencle , cedera janji.

Ini adalah salah satu falsafah kepemimpinan Kejawen yang sudah dikenal sejak masa kuno.


Jayabaya versi Kebatinan


Jayabaya adalah Raja Kediri, sering diartikan sebagai kelahiran manusia pertama di Jawa, adalah didaerah Kediri , Jawa Timur.
Didaerah ini ada dataran subur , suasananya nyaman untuk dihuni, namanya Pare, dari kata pari , beras, makanan pokok manusia.

Ini merupakan  gambaran keberadaan manusia yang lahir dibumi dengan terjamin, karena kondisi alam yang mendukung dan tersedianya makanan.  Raja Jayabaya sebelum turun ke mayapada, mewujudkan diri sebagai manusia yang hidup dibumi , adalah Raja Dewa dari kahyangan . sorga, domainnya para dewa-dewi. Raja Dewa itu bernama Wishnu, Raja Dewa kehidupan pelestari jagat.  (Sejak masuknya pengaruh Hindu, di Jawa mulai timbul negeri dengan sistim kerajaan, menggantikan “tata pemerintahan” asli yang berupa Kabuyutan , yang pemimpinnya Dewan Pinisepuh, orang-orang tua . Nama-nama Hindu mulai diadopsi, meskipun mereka adalah orang-orang Jawa asli).

Wishnu dari domainnya mengamati bumi dengan seksama, mencari tempat yang nyaman untuk dijadikan kerajaaannya. Dia merasa cocok untuk tinggal di Kediri.

Dewa yang ingin menjadi manusia bumi, harus memenuhi syarat-syaratnya. Seperti diketahui dewa itu tinggal di kahyangan, alamnya dewa, alamnya suksma, spirit, roh, tidak memakai badan fisik, karena berbadan sinar. Sedangkan untuk hidup di bumi, suksma harus “memakai pakaian” yang berujud badan fisik dan eteris atau istilah lokalnya badan kasar dan badan halus.

Badan fisik dan eteris itu berintikan elemen-elemen alam : api, udara, air dan tanah dan itu semua harus dalam keadaan sehat, dengan piranti-pirantinya yang bekerja canggih.

Suksma yang menyatu dengan raga , harus sinergis , semua sistimnya bekerja dengan sempurna, sehingga menjadi manusia hidup yang normal yang mampu berkiprah lahir bathin. Kalau penyatuan suksma dengan  raga tidak pas , tidak sempurna , ada yang “korsluit” maka yang mewujud adalah manusia cacat badan, pikiran atau mental.

Untuk terwujudnya/lahirnya manusia yang normal, persyaratannya adalah niat baik, yang diberkahi oleh Sang Suksma Agung, Pencipta Kehidupan. Juga persyaratan hidup dibumi harus dipenuhi sebaik-baiknya.

Manifestasi kehidupan suksma di bumi, lumrahnya dan pada masa kini adalah lewat kelahiran seorang bayi. Bayi yang sehat lahir-bathin yang dilahirkan dari gua garba ibu , setelah berhasil dibuahi bapak.

Sehingga  perlu adanya ibu–bapak yang sehat lahir bathin, ciptanya baik dan benar, menyatu dalam rasa dan raga , tumbuhlah janin.
Dengan sepengetahuan Sang Suksma Agung, Tuhan, suksma yang sesuai turun kebumi, mendapatkan pakaian baru berupa raga fisik dan eteris. Lahirlah seorang manusia baru dengan misi yang mesti dilaksanakan didunia.

Pada kenyataannya manusia adalah suksma,  spirit , roh yang berbadan raga  fisik dan eteris atau raga kasar dan halus. Suksma tidak akan rusak untuk selamanya, kalau badan rusak, suksma akan kembali ke asal-muasalnya keharibaan Sang Suksma Agung, Gusti, Tuhan.                       

Pemahaman manusia suksma ini jangan dibalik menjadi raga hidup yang bernyawa, seperti yang dianut sementara orang.  Akhirnya orang tersebut dalam hidupnya mengutamakan kepentingan raga, ingin selalu mengenakkan raganya sendiri, maka kelakuannya penuh nafsu : mau makan enak, kuasa, kaya duniawi yang egoistis. Mereka lupa kepada misi hidup pokok yang sebenarnya, dibumi malah saling gontok-gontokan dan berkelahi.

Suksma yang berhasil terlahir menjadi bayi, hidup sehat lahir bathin, itu telah melalui perjalanan perjuangan yang maha hebat. Dari beribu-ribu bahkan jutaan benih yang meluncur kegua garba ibu, hanya satu yang berhasil menjadi bayi. Inilah Suksma yang lulus jadi bayi, dia menang, Jaya, terlepas dari segala bahaya - baya dan menjadi bayi manusia - Jayabaya .

Oleh karena itu Jayabaya ada di Kediri, artinya suksma yang jaya hidup Ke dalam Diri-badan manusia..
Inilah pemahaman sejati mengenai terjadinya kehidupan manusia yang sudah sejak dulu merupakan ajaran Kejawen.


Kejawen

Kejawen dalam pengertian yang umum mencakup budaya, tradisi, ritual, seni, sikap dan pandangan hidup orang Jawa. Selain itu Kejawen juga berarti kebatinan atau Spiritualitas Jawa.

Hendaknya diketahui bahwa sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, orang Jawa telah mempunyai kepercayaannya sendiri yang sangat menghormati dan manembah kepada Gusti Sang Akarya Jagat atau Gusti atau Pangeran, Tuhan Sang Pencipta Alam berikut segala isinya termasuk manusia.

Kepercayaan Kejawen diturunkan secara turun temurun dari para leluhur. Orang Jawa sangatlah menghormati ajaran dan pesan pinisepuh yang bernilai tinggi dan bijak. Menurut kebiasaan kuno, pesan orang tua dijunjung tinggi bagai pusaka, dijaga kebenarannya untuk tidak diselewengkan.

Penyembahan kepada Gusti dilakukan melalui panembah, hening, samadi, ritual tradisional dan pralambang-pralambang.
Orang Jawa sejak dulu tidak mengenal penyembahan (atau yang diujudkan) patung-patung Dewa..


Kabeh agama iku apik/Semua agama itu baik

Sejak dulu, orang Jawa selalu bersikap toleran dan berwawasan luas. Oleh karena itu, agama-agama dari luar tanah Jawa diterima dengan baik dan tidak dihalangi untuk berkembang .. Ini sesuai dengan pandangan nenek-moyang Jawa bahwa : kabeh agama iku apik-semua agama itu baik.

Para pinisepuh kejawen dari dulu yakin bahwa semua agama mengagungkan Tuhan Sang Pencipta , meskipun dengan cara-cara yang berlainan.
Jadi tidak ada alasan untuk melarang suatu agama atau kepercayan terhadap Tuhan YME.

Selain itu, setiap agama pada intinya menyebarkan ajaran dan tuntunan mulia bagi para penganutnya , demi terwujudnya kehidupan yang damai dan sejahtera lahir bathin.


JagadKejawen – The Javanese Culture & Spirituality

Ini nama website kami, logonya alu dan lumpang.

Sebagai anak manusia yang terlahir ditanah Jawa dan itu bukan hal yang kebetulan bahwa kami dititahkan untuk menjalani kehidupan yang sekarang ditanah ini Kami terpanggil untuk turut melestarikan ajaran dan budaya Kejawen yang adiluhung dan memperkenalkan kepada saudara-saudara kami tidak hanya kepada orang-orang Jawa  generasi kini, yang mungkin karena kesibukannya belum sempat meluangkan waktu untuk mencerna dan menghayati Kejawen dari perspektif yang lebih jernih.

Dengan membaca pesan-pesan yang tersirat disini, bila seandainya mempunyai sudut pandang lain, setidaknya bisa mengetahui bahwa ada orang-orang Jawa yang secara konstruktif berusaha mencurahkan hati dan usahanya untuk melestarikan Kejawen.

Sikap hidup ajaran Kejawen itu “merdiko”, bebas dalam berpikir dan bersikap, mengekspresikan pendapat. Orang tidak boleh memaksakan kehendaknya, tetapi kalau dipaksa juga tidak setuju.

Kejawen termasuk spiritualitasnya, oleh kami dan saudara-saudara kami yang sefaham dan sepakat untuk nguri-uri – melestarikan Kejawen, akan kami giyarke – perkenalkan, sebar luaskan kepada dunia, kekancah internasional. Sebab,  pendekatan dan pemahaman lewat budaya terbukti ampuh, sangat efektif untuk memupuk semangat saling mengenal, menghargai dan saling menyayangi, welas asih antar sesama anak manusia dari suku dan bangsa apapun diseluruh dunia. Seperti kata pepatah : Tidak sayang karena tak kenal.

Spiritualitas Jawa atau kebatinan, laku spiritual untuk menemukan jati-diri, Pribadi Sejati, Pencerahan, dimana hubungan kawulo Gusti serasi. Spiritualitas Kejawen mudah difahami oleh kaum spiritualis manapun karena sifatnya universal.

Alu/pounder dan Lumpang/Rice-mortar adalah logo website ini :

Ini melambangkan bertemunya Bapak Angkasa dan Ibu Bumi, manifestasi penciptaan sakral didunia ini. Melalui pertemuan Enerji Alam Semesta kedalam gua garba Pertiwi, merupakan perlambang manifestasi kehidupan manusia diplanet bumi ini, atas perkenan Gusti, Sang Pencipta.

Dimasa lalu terutama dipedesaan, diluar rumah atau  didekat lumbung padi , selalu ada Alu yang diletakkan diatas Lumpang. Itu merupakan perlambang eksistensi kehidupan yang sejahtera dibumi dengan berkah Gusti.              

Kehidupan yang sempurna didunia terjadi atas karsa dan berkah Gusti, dilambangkan dengan Alu Bapak AngkasaDayaning Urip – Daya Hidup.  Daya hidup dari Gusti yang menyatu dalam gua garba Pertiwi yang subur dan mendukung , dilambangkan dengan Lumpang/Ibu Bumi.

Oleh karena itu, bila umat manusia ingin mendapatkan berkah Gusti, supaya ada kehidupan yang baik dibumi, bumi dan alam semesta harus dilestarikan dan diperlakukan dengan sebaik-baiknya,
 Memayu Hayuning Bawono

Melestarikan kecantikan jagad adalah salah satu sikap dan kebajikan hidup,jawa yang sangat prinsipil dan sampai kini tetap relevan , juga dikancah global  dikumandangkan para pelestari lingkungan dengan ungkapan Save our planet- selamatkan planet kami.

Alu dan Lumpang yang menyatu  secara spiritual juga menunjukkan sikap hidup yang melambangkan hubungan serasi antara kawulo dan Gusti, istilah kebatinan  Jawa : Jumbuhe kawulo Gusti atau Manunggaling kawulo Gusti


Catatan untuk saudara-saudara kita bangsa Indonesia

Kami sepenuhnya menyadari bahwa budaya Kejawen adalah sebuah permata dari untaian kalung permata Nusantara yang indah.
Semua sukubangsa di Indonesia sama berharganya dan punya kedudukan sejajar. Budaya masing-masing suku sudah dan akan diperkerkenalkan oleh saudara-saudara kita yang fasih dalam bidangnya.

Kami menampilkan Kejawen jauh dari prasangka untuk mencuatkan sukuisme, itu semata hanya karena kami merasa lebih menguasai bidang ini.
Budaya beragam suku-suku dari seluruh pelosok tanah air, membentuk taman indah, harum berwarna-warni di persada Indonesia.  

Motto yang membuat bangsa Indonesia rukun adalah Bhineka Tunggal Ika-Berbeda-beda tetapi satu. Sebenarnya motto ini relevan juga dipakai ditingkat mondial dalam pergaulan antar bangsa-Unity in diversity.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar